Lentera 2026: Menyalakan Literasi Keuangan dan Cinta Rupiah Bersama Bank Indonesia Kediri

Lentera 2026: Menyalakan Literasi Keuangan dan Cinta Rupiah Bersama Bank Indonesia Kediri

GenBI UNISKA berhasil menggelar acara seminar dengan tema “Lentera: Literasi, Edukasi, Paham Digital, dan Cinta Rupiah”. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 16 September 2026, di Gedung E Lantai 2 Universitas Islam Kadiri. Seminar ini menghadirkan pemateri langsung dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kediri.

Sesuai temanya, Lentera diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi mahasiswa dalam memahami dunia keuangan yang kini bergerak serba digital. Empat materi disampaikan dalam satu rangkaian, yakni kebanksentralan, UMKM dan keuangan inklusif, payment system and cash management, serta Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah dan PEKA.

Materi pertama, kebanksentralan, disampaikan oleh Bapak Saryo selaku Asisten Direktur Bank Indonesia Kediri. Ia mengajak peserta memahami apa itu bank sentral dan mengapa perannya penting bagi kehidupan sehari-hari. Bapak Saryo menjelaskan bahwa Bank Indonesia menjalankan tiga tugas utama, yaitu kebijakan moneter, kebijakan sistem pembayaran, dan kebijakan makroprudensial. Semuanya bermuara pada satu tujuan: menjaga stabilitas nilai Rupiah.

Tak hanya itu, peserta juga diperkenalkan pada konsep inflasi, yaitu kenaikan harga secara umum dan terus-menerus. Inflasi tahun 2025 tercatat 2,92 persen, sedangkan target inflasi 2026 berada pada kisaran 2,5 persen ± 1 persen. Untuk mengendalikannya, Bank Indonesia memakai sejumlah instrumen, antara lain BI Rate, operasi pasar terbuka, dan Giro Wajib Minimum. Di daerah, pengendalian inflasi juga dilakukan bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).

Materi kedua, UMKM dan keuangan inklusif, disampaikan oleh Sri Wahyu Setyati. Materi ini menjawab pertanyaan yang mungkin muncul: mengapa bank sentral ikut mengurus UMKM? Jawabannya, UMKM berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, harga pangan, inflasi, hingga sistem keuangan. UMKM yang kuat ikut mendukung stabilitas Rupiah dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sri Wahyu Setyati memaparkan program KPwBI Kediri, antara lain perluasan akses pasar, pendampingan ekspor, pengembangan klaster kopi, serta peningkatan akses pembiayaan melalui database UMKM potensial (BISAID) dan business matching dengan perbankan. Bagi mahasiswa GenBI, ada satu hal yang dekat dengan mereka: pelatihan SIAPIK melalui Training of Trainers yang melibatkan 12 mahasiswa GenBI se-wilayah kerja Kediri. Peserta juga mendapat gambaran tentang keuangan inklusif dan pengembangan ekonomi syariah sebagai bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal.

Materi ketiga, payment system and cash management, disampaikan oleh Dian Sungging Raharjo. Materi ini membahas sistem pembayaran di tengah era digitalisasi. Peserta mengenal infrastruktur pembayaran nasional seperti BI-RTGS, SKNBI, dan BI-FAST. BI-FAST memungkinkan transfer secara real-time selama 24 jam setiap hari dengan biaya Rp2.500 per transaksi. QRIS juga dibahas cukup luas. Sejak diluncurkan pada 2019, satu kode QR bisa dipindai lewat berbagai aplikasi pembayaran, sehingga transaksi lebih praktis. Dian turut memaparkan perkembangan terbarunya, mulai dari QRIS antarnegara, QRIS Tap pada 2025, hingga rencana Payment ID pada 2026.

Dengan perubahan yang begitu cepat, tentu saja hal itu perlu diimbangi dengan kewaspadaan. Oleh karena itu, peserta juga diajak mengenali modus penipuan seperti skimming, phishing, dan social engineering, lalu belajar membuat PIN dan kata sandi yang kuat sebagai bagian dari pengelolaan keuangan yang aman, baik secara digital maupun tunai.

Materi keempat, Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah dan PEKA, disampaikan oleh Isa Radja Irunta, Juara 1 Duta Muda CBP Rupiah dan PEKA Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri. Ia menekankan bahwa pembayaran digital tidak menghapus pentingnya Rupiah tunai. Program Cinta, Bangga, Paham Rupiah menekankan kemampuan mengenali keaslian uang, kebanggaan terhadap Rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa, dan pemahaman akan fungsinya dalam perekonomian. Merawat uang kertas juga ditekankan lewat prinsip 5J: jangan dilipat, dicoret, diremas, dibasahi, dan distapler.

Selain CBP, Isa juga memperkenalkan prinsip PEKA, yaitu Peduli, Kenali, dan Adukan, sebagai panduan perlindungan konsumen. Peserta diajak peduli terhadap ciri-ciri keaslian uang Rupiah maupun potensi penipuan transaksi keuangan, mengenali perbedaan uang asli dan palsu serta modus-modus kejahatan keuangan, dan berani mengadukan bila menemukan kejanggalan kepada pihak berwenang. Sebagai Juara 1 Duta Muda CBP Rupiah dan PEKA, Isa turut berbagi pengalamannya mengedukasi masyarakat tentang cinta, bangga, dan paham Rupiah di berbagai kesempatan.

Akhir acara, untuk mengukur pemahaman, panitia menggelar post test singkat yang mencakup keempat materi. Melalui Lentera, diharapkan mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna layanan keuangan digital, tetapi juga pengguna yang cerdas, waspada, dan mencintai Rupiah. Pengetahuan yang didapat diharapkan dibagikan lagi kepada teman, keluarga, dan lingkungan sekitar, sehingga cahaya literasi keuangan ini menyebar lebih luas.

Bagikan dengan :