Etika Teknologi di Era AI dan IoT: Perspektif Teknik Elektro

Etika Teknologi di Era AI dan IoT: Perspektif Teknik Elektro

Kemajuan teknologi di era kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan dunia. Dari rumah pintar hingga kendaraan otonom, inovasi ini menawarkan kemudahan, tetapi juga menimbulkan tantangan etis yang perlu diatasi. Sebagai seorang dosen dan praktisi Teknik Elektro, saya percaya bahwa etika harus menjadi bagian integral dalam pengembangan dan implementasi teknologi.

Di era IoT, perangkat yang terus terhubung mengumpulkan dan berbagi data tanpa henti. Informasi yang dihasilkan mencerminkan kebiasaan, preferensi, hingga kondisi kesehatan pengguna. Namun, tanpa perlindungan yang kuat, data ini rentan terhadap penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, pengembang teknologi harus memastikan sistem IoT tidak hanya efisien, tetapi juga memiliki perlindungan privasi yang ketat untuk menjaga keamanan data pengguna.

Keamanan data menjadi isu penting dalam pengembangan IoT. Perangkat wearable, misalnya, mengumpulkan data kesehatan yang sensitif. Jika data ini jatuh ke tangan pihak ketiga tanpa izin, dapat terjadi pelanggaran privasi yang serius. Oleh karena itu, penting bagi insinyur untuk menerapkan teknologi keamanan seperti enkripsi yang kuat dan autentikasi multi-faktor guna melindungi informasi pengguna dari ancaman yang tidak diinginkan.

Di sisi lain, AI semakin mampu mengambil keputusan secara mandiri, dari rekomendasi konten hingga kendaraan otonom. Meskipun membawa efisiensi, AI juga menimbulkan dilema etis. Bagaimana jika keputusan AI merugikan manusia? Siapa yang bertanggung jawab? Untuk mengatasi hal ini, transparansi algoritma, audit terhadap keputusan AI, serta keterlibatan manusia dalam kendali sistem harus menjadi prioritas.

AI juga menghadapi tantangan dalam pengambilan keputusan di situasi kritis. Misalnya, dalam keadaan darurat, kendaraan otonom harus memilih antara keselamatan penumpang atau pejalan kaki. Agar AI bertindak secara etis, diperlukan algoritma yang dapat diaudit serta pertimbangan sosial dalam proses pengembangannya. Dengan demikian, AI tidak hanya cerdas secara teknis tetapi juga bertanggung jawab secara moral.

Selain tantangan etika, ketimpangan akses terhadap teknologi AI dan IoT juga menjadi perhatian. Inovasi ini sering kali hanya dinikmati oleh mereka yang memiliki sumber daya ekonomi yang memadai, sementara masyarakat dengan keterbatasan akses semakin tertinggal. Oleh karena itu, insinyur dan industri perlu mendorong solusi teknologi yang lebih inklusif dan terjangkau agar manfaatnya dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

Dampak lingkungan dari perkembangan AI dan IoT juga tidak boleh diabaikan. Produksi perangkat pintar dan infrastruktur pendukungnya membutuhkan sumber daya besar serta menghasilkan limbah elektronik yang dapat merusak ekosistem. Oleh karena itu, desain berkelanjutan seperti penggunaan bahan daur ulang, teknologi hemat energi, dan perpanjangan masa pakai perangkat menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

Selain itu, teknologi seperti sistem pengenalan wajah AI menimbulkan tantangan baru terkait privasi dan kebebasan sipil. Jika digunakan tanpa regulasi yang jelas, teknologi ini dapat disalahgunakan untuk pengawasan massal. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat dalam diskusi etika teknologi menjadi krusial agar pengembangan AI dan IoT tetap menghormati hak asasi manusia serta keseimbangan sosial.

Kemajuan teknologi tidak hanya tentang inovasi, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek moral dan etika. Para insinyur memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa AI dan IoT dikembangkan dengan prinsip yang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Dengan demikian, teknologi dapat memberikan manfaat maksimal bagi manusia tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.

Mengintegrasikan nilai-nilai etis dalam proses desain dan implementasi teknologi adalah langkah penting menuju masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan. Dalam hal ini, Al-Qur’an memberikan pedoman yang relevan melalui QS. Al-A’raf: 56:

وَلَا تُفۡسِدُوۡا فِى الۡاَرۡضِ بَعۡدَ اِصۡلَاحِهَا وَادۡعُوۡهُ خَوۡفًا وَّطَمَعًا‌ ؕ اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰهِ قَرِيۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِيۡنَ

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya; berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” – (QS. Al-A’raf: 56).

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak menyalahgunakan kemajuan teknologi sehingga menimbulkan kerusakan, tetapi justru menjadikannya sebagai sarana untuk memperbaiki kehidupan manusia dan menjaga keseimbangan alam.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan pesan: “Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Gunakanlah teknologi untuk menciptakan manfaat, menebar kebaikan, dan menjaga keberlanjutan hidup sesuai dengan nilai-nilai moral dan spiritual.” Dengan begitu, kita tidak hanya menjadi inovator, tetapi juga penjaga tanggung jawab moral atas dampak teknologi terhadap masyarakat, sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran Islam.

.

.

.

Artikel ini ditulis oleh Danang Erwanto, S.T., M.T.
Dosen Universitas Islam Kadiri, Kediri,

Bagikan dengan :