
Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri memulai langkah awal pengabdian masyarakat tahun ini dengan menggelar Pembekalan Mahasiswa Peserta Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) UNISKA 2025 pada Selasa, 17 Juni 2025. Bertempat di Aula Gedung E Lantai II, pembekalan ini menjadi tonggak awal bagi ratusan mahasiswa sebelum mereka diterjunkan ke 33 desa di empat wilayah: Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kabupaten Tulungagung, dan Kabupaten Trenggalek.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dan arahan dari Rektor UNISKA Kediri, Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd., yang menyampaikan pentingnya pengabdian mahasiswa sebagai bagian dari penguatan peran perguruan tinggi dalam masyarakat. “Melalui KKN, mahasiswa UNISKA bukan hanya belajar, tetapi hadir memberi dampak langsung. Ini adalah implementasi nyata dari visi UNISKA sebagai kampus berdampak,” tegasnya.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNISKA Kediri, drh. Ertika Fitri Lisnanti, M.Si., memaparkan mekanisme pelaksanaan KKN 2025 secara menyeluruh, mulai dari tahap perencanaan program, pelaksanaan di lapangan, hingga monitoring dan evaluasi yang akan dilaksanakan secara berkala. Tahun ini, UNISKA mengirim mahasiswa ke 30 desa reguler, serta 3 desa dalam skema KKN kolaborasi bersama Dinas Perikanan, yang berlokasi di Kecamatan Banyakan, Pare, dan Wates. Selain itu, terdapat satu desa kerja sama khusus dengan Badan Pusat Statistik (BPS), yaitu Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, yang ditetapkan sebagai pilot project Desa Statistik. Kita juga mendapat dukungan dari Bank Indonesia yang masuk ke seluruh lokasi KKN reguler dan berperan dalam mendukung program hilirisasi produk pangan,” jelas Ertika.
Pembekalan menghadirkan para narasumber dari berbagai instansi strategis pemerintah daerah. Dari Bappeda Kota Kediri, hadir Herry Krismono, SE., MM., Sekretaris Bappeda, yang menyampaikan materi bertema “Ruang Kota, Ruang Karya: Merawat Potensi, Membentuk Identitas Melalui Aksi Kolaboratif dan Kreatif.” Fokus utama diberikan pada pengembangan Kampung Keren di enam desa di Kecamatan Pesantren: Ketami, Blabak, Tinalan, Tempurejo, Burengan, dan Banaran.
Dari Bappeda Kabupaten Kediri, hadir Ahmad Fanani, ST., M.AP., Kabid Ekonomi dan SDA, yang mengangkat tema “Kabupaten Kediri Bertumbuh: Ekowisata Hijau dan Pertanian Cerdas Berbasis Kearifan Lokal.” Materi ini menjadi acuan penting bagi mahasiswa yang akan mengabdi di Kecamatan Plosoklaten (Desa Gondang dan Punjul), Wates (Desa Karanganyar, Tawang, dan Sidomulyo), serta Kecamatan Ngasem (Desa Ngasem).
Sementara itu, dari Bank Indonesia Kota Kediri, hadir Umi Tri Ruhana, Junior Analyst, yang menyampaikan materi bertema “Produk Hilirisasi Pertanian dan Peternakan”. Mahasiswa dibekali wawasan tentang hilirisasi produk pertanian dan peternakan sebagai strategi penguatan sektor ekonomi desa berbasis potensi lokal dan pemberdayaan UMKM. Bank Indonesia juga memberikan dukungan dana program kerja mahasiswa, serta hadiah khusus untuk desa dan kelompok KKN terbaik, sebagai bentuk apresiasi atas inovasi di lapangan.
Dari Kabupaten Tulungagung, hadir Eko Hadi Prabowo, SE., MM., Kabid Perekonomian dan SDA Bappeda, yang menyampaikan tema “Menghidupkan Potensi Negeri Melalui Aksi Nyata: Kolaborasi Generasi Muda dalam Mendorong Inovasi Sosial dan Ekonomi Berbasis Alam, Budaya, dan Kemandirian Lokal.” Mahasiswa akan diterjunkan di tujuh desa: Tanggung, Sawo (Kecamatan Campur Darat), Tugu, Sendang (Kecamatan Sendang), serta Ngrejo, Tegar Rejo, dan Jenglong Arjo (Kecamatan Tanggung Gunung).
Dari Kabupaten Trenggalek, hadir dr. Ratna Sulistyowati, M.Kes, Kepala Bappedalitbang Kabupaten Trenggalek, yang menyampaikan tema “Trenggalek EcoRise: Harmoni Alam dan Inovasi Desa.” Mahasiswa akan diterjunkan ke delapan desa di Kecamatan Durenan dan Watulimo untuk mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis partisipasi masyarakat.
Total 33 desa menjadi lokasi pengabdian mahasiswa UNISKA tahun ini. Dengan 30 desa reguler, 3 desa kolaborasi dengan Dinas Perikanan, dan satu desa kerja sama dengan BPS, UNISKA Kediri terus membuktikan komitmennya sebagai kampus yang berdampak dan adaptif terhadap tantangan zaman. Melalui pendekatan partisipatif, tematik, dan berbasis potensi lokal, mahasiswa dipersiapkan menjadi agen perubahan sosial dan penggerak kemajuan desa.





