Belajar Tak Pernah Usai, UNISKA Kediri Dorong Lulusan Terus Berkembang dan Berikan Manfaat bagi Masyarakat

Belajar Tak Pernah Usai, UNISKA Kediri Dorong Lulusan Terus Berkembang dan Berikan Manfaat bagi Masyarakat

Menyelesaikan pendidikan tinggi bukan berarti mengakhiri proses belajar. Justru, kelulusan menjadi awal perjalanan baru untuk terus mengembangkan diri, menghadapi perubahan zaman, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam Rapat Senat Terbuka Wisuda Program Sarjana ke-XLVII dan Magister ke-XXXVIII Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri hari kedua yang berlangsung di UNISKA Center, Minggu (1/11/2026).

Dalam sambutannya, Rektor UNISKA Kediri, Prof. Dr. H. Bambang Yulianto, M.Pd., mengingatkan bahwa gelar akademik merupakan pengakuan atas proses pendidikan yang telah ditempuh, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang. Kepercayaan masyarakat harus dibangun melalui kemampuan, kejujuran, dan tanggung jawab dalam menjalankan pekerjaan.

Ia menegaskan bahwa lulusan UNISKA harus mampu mengimplementasikan tiga nilai utama, yakni unggul, beradab, dan berdaya saing. Keunggulan tercermin dari penguasaan ilmu dan kualitas pekerjaan, adab diwujudkan melalui sikap dalam memperlakukan orang lain, sedangkan daya saing dibangun melalui kemampuan beradaptasi, bekerja sama, dan menghasilkan manfaat nyata.

Rektor juga mengingatkan para lulusan agar mampu mengikuti perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), otomatisasi, dan transformasi digital. Namun, penguasaan teknologi harus tetap diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, serta bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.

Menurutnya, bekal ilmu yang diperoleh selama perkuliahan harus terus dikembangkan setelah meninggalkan kampus. Keberhasilan tidak hanya diukur dari jabatan, penghasilan, atau gelar lanjutan, tetapi juga dari seberapa besar ilmu yang dimiliki dapat digunakan untuk membantu masyarakat dan menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan.

Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Bina Cendekia Muslim Pancasila (YBCMP), KH. M. Anwar Iskandar, dalam sambutannya mengajak seluruh wisudawan untuk senantiasa bersyukur atas nikmat akal dan kesempatan memperoleh pendidikan tinggi. Ia mengingatkan bahwa nikmat akal atau nikmatul aqli merupakan salah satu anugerah Allah SWT yang harus dijaga dan dikembangkan. Kesempatan menempuh pendidikan tinggi menjadi salah satu bentuk rasa syukur atas nikmat tersebut.

Namun, ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan adab, akhlak, dan etika. Kecerdasan intelektual saja tidak cukup apabila tidak disertai karakter dan perilaku yang baik.

Untuk memperkuat pesannya, KH. Anwar Iskandar mengutip syair penyair legendaris Mesir, Ahmad Syauqi, yang berbunyi, “Innamal-umamu-l-akhlaqu ma baqiyat, fa in humu dzahabat akhlaquhum dzahabu.” Syair tersebut mengandung makna bahwa kejayaan suatu bangsa terletak pada akhlaknya. Ketika akhlak telah hilang, maka kehancuran bangsa akan mengikuti.

Perspektif mengenai pentingnya pengembangan diri dan peningkatan kualitas pendidikan tinggi kemudian diperdalam melalui orasi ilmiah yang disampaikan Dr. Pol. H.M. Faishal Aminuddin, S.S., M.Si., Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026–2031 sekaligus Sekretaris Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU).

Dalam pemaparannya, Faishal memberikan apresiasi terhadap perkembangan UNISKA Kediri yang dinilainya mulai menunjukkan tata kelola perguruan tinggi yang baik serta kemajuan yang pesat, baik dari sisi fisik maupun nonfisik.

Ia menjelaskan bahwa globalisasi telah mengubah lanskap pendidikan tinggi. Kemudahan akses internet memungkinkan mahasiswa memperoleh sumber pengetahuan yang semakin luas tanpa dibatasi oleh lokasi perguruan tinggi. Mahasiswa UNISKA memiliki kesempatan mempelajari berbagai referensi dan jurnal ilmiah yang sama dengan mahasiswa di Jakarta, Surabaya, bahkan Kuala Lumpur.

Ketersediaan akses terhadap sumber pengetahuan, fasilitas laboratorium, serta interaksi akademik dengan dosen menjadi modal bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi. Kondisi tersebut juga mengubah cara pandang terhadap mutu lulusan dan persaingan di dunia kerja.

“Kualitas akademik lulusan dan kompetisi di dunia kerja sudah tidak ditentukan oleh kampus dari mana,” ungkapnya.

Faishal juga menyampaikan bahwa LPTNU menaungi 232 perguruan tinggi yang dikelola oleh berbagai yayasan. Dari jumlah tersebut, UNISKA Kediri termasuk dalam jajaran 10 besar. Capaian ini diharapkan menjadi motivasi bagi universitas untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saingnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti tiga persoalan besar yang dihadapi Indonesia berkaitan dengan ketenagakerjaan. Pertama, berkurangnya ketersediaan lapangan kerja. Kedua, ketidaksesuaian antara bidang keilmuan dengan pekerjaan yang tersedia. Ketiga, adanya masyarakat yang telah memperoleh akses pendidikan, tetapi masih menghadapi keterbatasan modal untuk mengembangkan usaha atau berwirausaha.

Menghadapi tantangan tersebut, menurutnya, lulusan perguruan tinggi perlu memiliki dua bekal utama, yakni kapasitas dan karakter yang kuat. Keduanya harus terus dikembangkan selama menempuh pendidikan maupun setelah memasuki kehidupan masyarakat. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya membiasakan diri berbuat baik karena kebaikan yang dilakukan akan kembali kepada diri sendiri dalam bentuk keberkahan.

Kepada pengelola perguruan tinggi, Faishal juga berpesan agar peningkatan mutu menjadi perhatian utama di tengah banyaknya perguruan tinggi di Indonesia. Menurutnya, keberadaan institusi pendidikan tinggi harus diiringi dengan upaya nyata dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan menghasilkan lulusan yang kompeten.

Menutup kuliah umumnya, ia menyampaikan pesan khusus kepada para wisudawan agar tidak pernah berhenti mengembangkan diri.

“Belajarlah terus tanpa merasa lelah,” pesannya.

Ia menjelaskan bahwa belajar tidak selalu harus berlangsung melalui kegiatan formal. Meskipun terdapat jeda dalam aktivitas sehari-hari, proses berpikir, mengembangkan wawasan, dan memperbarui pengetahuan harus tetap berjalan. Dengan demikian, semangat belajar dapat terus tumbuh sepanjang kehidupan.

Rangkaian wisuda juga menghadirkan kesan dan pesan dari perwakilan wisudawan, Maulida Khoirun Nisa dari Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi. Dalam penyampaiannya, Maulida membagikan perjalanan pendidikannya yang tidak selalu berjalan mudah. Ia pernah mengalami masa jeda pendidikan atau gap year selama satu tahun sebelum akhirnya memperoleh kesempatan melanjutkan studi melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.

Baginya, kesempatan tersebut bukan sekadar bantuan untuk memperoleh pendidikan tinggi, melainkan sebuah kesempatan yang mengubah arah kehidupannya. Melalui UNISKA, ia mendapatkan ruang untuk belajar, bertumbuh, menemukan potensi diri, serta mengembangkan kemampuan melalui berbagai perlombaan dan kegiatan kemahasiswaan.

Maulida juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh civitas akademika UNISKA, mulai dari dosen yang memberikan ilmu dan pendampingan, tenaga kependidikan yang membantu kebutuhan akademik, hingga petugas keamanan, juru parkir, dan petugas kebersihan yang turut mendukung kenyamanan selama proses perkuliahan.

Tidak lupa, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada orang tua dan keluarga yang senantiasa memberikan doa, dukungan, serta pengorbanan hingga para wisudawan berhasil mencapai tahap tersebut.

Kepada rekan-rekan seperjuangannya, Maulida berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama perkuliahan dapat menjadi bekal untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Ia juga berharap seluruh wisudawan dapat melangkah menuju kesuksesan masing-masing tanpa melupakan kebersamaan dan kebaikan yang telah dibangun selama menjadi bagian dari UNISKA.

Baca Juga : Uniska Kediri Resmikan Lapangan Petanque, Perkuat Fasilitas Olahraga dan Pembinaan Prestasi Mahasiswa

Menutup pesannya, Maulida menyampaikan bahwa pendidikan bukan hanya tentang gelar yang berhasil disandang, melainkan tentang kehidupan yang dapat diubah menjadi lebih baik melalui ilmu yang diperoleh.

Melalui momentum wisuda hari kedua ini, UNISKA Kediri menegaskan pentingnya membangun lulusan yang tidak hanya unggul dalam kompetensi akademik, tetapi juga memiliki karakter, akhlak, dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman. Sebab, perjalanan pendidikan tidak berhenti ketika seseorang memperoleh gelar akademik. Lebih dari itu, ilmu harus terus dikembangkan dan diwujudkan melalui karya serta kebermanfaatan bagi masyarakat.

Bagikan dengan :